Laktasi

4 05 2009

Fisiologi Laktasi

(Kelompok 3)

“berbagi ilmu untuk keberhasilan bersama”

I. PENDAHULUAN

Setiap manusia pada umumnya mempunyai payudara, tetapi antara laki – laki dan perempuan berbeda dalam fungsinya. Payudara yang matang adalah salah satu tanda kelamin sekunder dari seorang gadis. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup keturunannya maka organ ini menjadi sumber utama dari kehidupan, karena Air Susu Ibu ( ASI ) adalah makanan bayi yang paling penting terutama pada bulan – bulan pertama kehidupan.
Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek antara rangsangan mekanik, saraf dan bermacam-macam hormon. Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas dari-duktus yang baru, percabangan- percabangan dan lobulus, yang dipengaruhi oleh hormon-hormon plasenta dan korpus luteum. Hormon-hormon yang ikut membantu mempercepat pertumbuhan adalah prolaktin, laktogen plasenta, karionik gonadotropin, insulin, kortisol, hormon tiroid, hormon paratoroid, hormon pertumbuhan. Pada akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, namun jumlah kolostrum terbatas karena aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang kadarnya memang tinggi. Setelah partus berhubung lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus luteum maka estrogen dan progesterone sari-at berkurang, ditambah dengan adanya isapan bayi yang merangsang puting susu dan kalang payudara, akan merangsang ujung – ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.
Pemberian ASI di anjurkan untuk jangka waktu 4 bulan tetapi bila mungkin sampai 6 bulan, setelah 6 bulan bayi di perkenankan dengan makanan padat. Sedangkan Asi dapat di berikan terus sampai usia bayi 2 tahun atau bahkan mungkin lebih dari 2 tahun.
Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai fisiologi laktasi, serta sedikit penjelasan mengenai embriologi perkembangan dan anatomi payudara yang berkaitan erat dengan fisiologi laktasi.

II. ISI

ASI adalah cairan dengan komposisi khas untuk menjamin pertumbuhan optimal pada tiap spesies. Mahluk yang menyusui seperti mamalia memproduksi susu untuk makanan anaknya. Manusia: memiliki kelenjar susu & sepasang payudara terletak di bawah kulit, tertanam dalam jaringan penunjang dan lemak di atas otot dada depan.

Anatomi Payudara
Setiap manusia pada umumnya mempunyai payudara, tetapi antara laki – laki dan perempuan berbeda dalam fungsinya. Payudara yang matang adalah salah satu tanda kelamin sekunder dari seorang gadis dan merupakan salah satu organ yang indah dan menarik. Lebih dari itu untuk mempertahankan kelangsungan hidup keturunannya maka organ ini menjadi sumber utama dari kehidupan, karena Air Susu Ibu ( ASI ) adalah makanan bayi yang paling penting terutama pada bulan – bulan pertama kehidupan.

1. Areola Mammae
Letaknya mengelilingi putting susu dan berwarna kegelapan yang disebabkan oleh penipisan dan penimbunan pigmen pada kulitnya. Perubahan warna ini tergantung dari corak kulit dan adanya kehamilan. Pada wanita yang corak kulitnya kuning langsat akan berwarna jingga kemerahan, bila kulitnya kehitaman maka warnanya lebih gelap. Selama kehamilan warna akan menjadi lebih gelap dan wama ini akan menetap untuk selanjutnya, jadi tidak kembali lagi seperti warna asli semula.
Pada daerah ini akan didapatkan kelenjar keringat, kelenjar lemak dari montgomery yang membentuk tuberkel dan akan membesar selama kehamilan. Kelenjar lemak ini akan menghasilkan suatu bahan dan dapat melicinkan kalang payudara selama menyusui. Di kalang payudara terdapat duktus laktiferus yang merupakan tempat penampungan air susu.
2. Putting Susu.
Terletak setinggi interkosta IV, tetapi berhubung adanya variasi bentuk dan ukuran payudara maka letaknya akan bervariasi. Pada tempat ini terdapat lubang – lubang kecil yang merupakan muara dari duktus laktiferus, ujung – ujung serat saraf, pembuluh darah, pembuluh getah bening, serat – serat otot polos yang tersusun secara sirkuler sehingga bila ada kontraksi maka duktus laktiferus akan memadat dan menyebabkan putting susu ereksi, sedangkan serat – serat otot yang longitudinal akan menarik kembali putting susu tersebut.
Payudara terdiri dari 15 – 25 lobus. Masing – masing lobulus terdiri dari 20 – 40 lobulus. Selanjutnya masing – masing lobulus terdiri dari 10 – 100 alveoli dan masing – masing dihubungkan dengan saluran air susu ( sistem duktus ) sehingga merupakan suatu pohon.
Perkembangan Payudara

(gambar pembentukan payudara)

Kelenjar mamae manusia berasal dari ectoderm. Kelenjar ini pertama kali dapat terlihat pada embrio yang berusia 4 minggu sebagai tunas (BUD) atau nodul dari jaringan epitel yang tampak disepanjang garis yang disebut Krista susu. Kelenjar mammae manusia merupakan stuktur tuboalveolar yang terdiri atas 15-25 lobus yang irregular yang letaknya radier menjauhi putting.
Pada awal kehamilan terdapat pertumbuhan dan percabangan yang cepat pada bagian terminal lobules yang rudimenter. Vaskualaritas meningkat dengan cepat. Sekitar kehamilan minggu ke 8 mulai terjadinya diferensiasi alveolar yang sesungguhnya. Asinus kelenjar yang sesungguhnya terlihat sebagai alveolus berlumen yang dibatasi oleh satu lapis sel mioepitel. Alveolus berhubungan dengan duktuk lactiferous yang lebih besar melalui ductus intralobular. Sekresi alveolar dimulai pada kehamilan trimester kedua. Pada trimester ketiga sekresi yang kaya immunoglobulin tampak memenuhi alveolus.

Fisiologi Pengeluaran ASI
Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek antara rangsangan mekanik, saraf dan bermacam – macam hormon. Pengaturan hormon terhadap pengeluaran ASI, dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu :
a. Pembentukan kelenjar payudara.
b. Pembentukan air susu.
c. Pemeliharaan pengeluaran air susu.

Pembentukan kelenjar payudara.

1. Masa Kehamilan.
Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas dari – duktus yang baru, percabangan – percabangan dan lobulus, yang dipengaruhi oleh hormon – hormon plasenta dan korpus luteum. Hormon – hormon yang ikut membantu mempercepat pertumbuhan adalah prolaktin, laktogen plasenta, karionik gonadotropin, insulin, kortisol, hormon tiroid, hormon paratoroid, hormon pertumbuhan.
2. Pada 3 bulan Kehamilan.
Prolaktin dari adenohipofise / hipofise anterior mulai merangsang kelenjar air susu untuk menghasilkan air susu yang disebut kolostrom. Pada masa ini pengeluaran kolostrum masih dihambat oleh estrogen dan progesterone, tetapi jumlah prolaktin meningkat hanya aktifitas dalam pembuatan kolostrum yang ditekan.
3. Pada Trimester Kedua Kehamilan.
Laktogen plasenta mulai merangsang untuk pembuatan kolostrum. Keaktifan dari rangsangan hormon – hormon terhadap pengeluaran air susu telah didemontrasikan kebenaranya bahwa seorang Ibu yang melahirkan bayi berumur 4 bulan dimana bayinya meninggal, tetap keluar kolostrum.

Pembentukan Air Susu.

Pada dasanya air susu merupakan emulsi lemak dalam fase cairan yang isotonic dengan plasma. Air susu manusia yang telah matang mengandung 3-5% lemak, 1% protein, 7% laktosa, dan 0,2% mineral, serta memberikan kalori sebesar 60-75 kkal/dl. Protein-protein yang utama pada air susu manusia adalah kasein, alfa lakto albumin, laktoferin imunologlobulin A, lisozim, dan albumin. Air susu yang pertama kali dikeluarkan setelah melahirkan yaitu kolostrum. Kolostrum mengandung protein yang lebih tinggi sebagian besar immunoglobulin serta kandungan gula yang lebih rendah dibandingka air susu yang diproduksi kemudian.
Sel epitel alveolus yang memproduksi susu merupakan sel yang terpolarisasi dan sangat berdiriferensiasi yang berfungsi mengakumulasi, mensintesis, mengemas, dan mengeluarkan air susu.
Terdapat empat jalur transelular untuk pembentukan air susu yang sesuai di dalam alveolus payudara. Jalur yang pertama meliputi sekresi kation monovalen dan air. Air dialirkan melalui sel alveolus melalui gradient konsentrasi yang dibangun oleh gula susu yang spesifik; ion-ion mengikuti gradient elektrokimia. Jalur yang kedua meliputi transport immunoglobulin yang dimediasi reseptor. Imunoglobulin A memasuki sel epitel setelah berikatan dengan reseptornya, menjadi terinternalisasi dan ditranspor ke apparatus golgi atau membrane apical pada sel untuk disekresi. Jalur yang ketiga meliputi sintesis dan transport lemak susu, yang disintesis di dalam sitoplasma dan reticulum endoplasma halus. Lemak susu kemudian beragregasi menjadi droplet yang bergabung untuk membentuk globul lemak yang lebih besar. Globul lemak kemudian dikeluarkan dari bagian apical sel ke dalam lumen alveolar. Jalur yang terakhir meliputi eksositosis vesikel sekretorik yang mengandung protein susu spesifik, kalsium, fosfat, sitrat, dan laktosa. Vesikel ini terbentuk di dalam apparatus golgi. Disini, kasein, yang merupakan protein susu spesifik, membentuk misel dengan kalsium dan fosfatnya. Golgi bersifat impernebel terhadap laktosa. Karena laktosa merupakan gula yang aktif secara osmotic, air ditarik ke dalam golgi sehingga kandungan laktosa menentukan volume cairan susu. Jalur yang kelima dibutuhkan untuk pembentukan air susu. Jalur ini merupakan jalur paraselular. Imunoglobulin seperti IgA, plasma protein dan leukosit dapat bergerak diantara sel alveolar yang telah kehilangan persambungan eratnya (tight junction).
Pada seorang Ibu yang menyusui dikenal 2 reflek yang masing- masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu:
1. Refleks Prolaktin.
Pada akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, namun jumlah kolostrum terbatas karena aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang kadarnya memang tinggi. Setelah partus berhubung lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus luteum maka estrogen dan progesterone sari-at berkurang, ditambah dengan adanya isapan bayi yang merangsang puting susu dan kalang payudara, akan merangsang ujung – ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.
Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor – faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor – faktor yang memacu sekresi prolaktin. Faktor – faktor yang memacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin. Hormone ini merangsang sel – sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu.
Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung. Pada ibu yang melahirkan anak tetapi tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2 – 3. pada ibu yang menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan seperti :
1. Stress atau pengaruh psikis
2. Anastesi
3. Operasi
4. Rangsangan puting susu
2. Reflek Letdown
Bersama dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada yang dilanjutkan ke hipofise posterior ( neurohipofise ) yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormone ini diangkat menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi involusi dari organ tersebut. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk ke system duktus dan selanjutnya menbalir melalui duktus lactiferus masuk ke mulut bayi.

Faktor – faktor yang meningkatkan let down adalah :
– Melihat bayi
– Mendengarkan suara bayi
– Mencium bayi
– Memikirkan untuk menyusui bayi
Hubungan yang utuh antara hipotalamus dan hipofise akan mengatur kadar prolaktin dan oksitosin dalam darah. Hormone – hormone ini sangat perlu untuk pengeluaran permulaan dan pemeliharaan penyediaan air susu selama menyusui. Bila susu tidak dikeluarkan akan mengakibatkan berkurangnya sirkulasi darah kapiler yang menyebabkan terlambatnya proses menyusui. Berkurangnya rangsangan menyusui oleh bayi misalnya kekuatan isapan yang kurang, frekuensi isapan yang kurang dan singkatnya waktu menyusui ini berarti pelepasan prolaktin yang cukup untuk mempertahankan pengeluaran air susu mulai sejak minggu pertama kelahiran.

Refleks Laktasi

(Gambar mekanisme reflaks laktasi)

Walaupun prolaktin bertanggung jawab dalam memulai produksi air susu, penyampaian air susu ke bayi dan pemeliharaan laktasi bergantung pada stimulasi mekanis pada puting susu. Stimulus isapan bayi di kenal sebagai ejeksi atau pengeluaran air susu. Walaupun isapan merupakan stimulus utama untuk pengeluaran air susu, namun reflex ini dapat dikondisikan. Tangisan atau pandangan bayi dan persiapan pyudara untuk menyusui dapat menyebabkan pengeluaran air susu, sementara rasa nyeri, malu, dan alcohol dapat menghambat pengeluaran tersebut.
Refleks menghisap dimulai saat implus sensoris yang berasal dari putting masuk ke medulla spinalis melalui akar dorsalnya. Jalur saraf multi sinaps naik ke nucleus supra optic magno selular dan paraventrikular pada hipotalamus melalui neuron-neuron yang mengandung aktivin di dalam tractus nucleus solitarius. Pengenalan terhadap implus menyebabkan pelepasan oksitosin secra episodic dari hipofisis posterior. Oksitosin kemudian menstimulasi sel-sel mioepitel yang melapisi duktus untuk berkontraksi, sehingga menyebabkan ejeksi air susu.
Lonjakan yang besar pada pelepasan prolaktin sementara berhubungan dengan pelepasan episodic oksitosin yang diinduksi oleh proses menyusui, namun lonjakan ini nantinya tidak akan dipengaruhi oleh perubahan oksitosin. Denyutan prolaktin menginduksi pembentukan air susu untuk proses menyusui berikutnya. Merokok dapat menghambat lonjakan prolaktin ini dan menyebabkan penurunan produksi air susu.
Refleks mengisap juga mempengaruhi aktifitas generator denyut GnRH. Isapan menghambat pelepasan gonadotropin dan biasanya tidak terjadi ovulasi. Efektivitas laktasi dalam menekan fungsi gonad secara langsung berhubungan dengan frekuensi dan durasi menyusui.

Mekanisme Menyusui.

a. Reflek mencari ( Rooting Reflex }
Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut merupakan rangsangan yang menimbulkan reflek mencari pada bayi. Ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju putting susu yang menempel tadi diikuti dengan membuka mulut dan kemudian putting susu ditarik masuk ke dalam mulut.

(Gambar Mekanisme Laktasi – Menyusui)
b. Reflek menghisap ( Sucking Reflex )
Putting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan lidah, putting susu ditarik lebih jauh dan rahang rnenekan kalang payudara dibelakang putting susu yang pada saat itu sudah terletak pada langit – langit keras. Dengan tekanan bibir dan gerakan rahang secara berirama, maka gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus laktiferus, sehingga air susu akan mengalir ke puting susu, selanjutnya bagian belakang lidah menekan putting susu pada langit – langit yang mengakibatkan air susu keluar dari putting susu. Cara yang dilakukan oleh bayi, tidak akan menimbulkan cedera pada putting susu.
c. Reflek menelan (swallowing reflek )
Pada saat air susu keluar dari putting susu, akan disusul dengan gerakan menghisap yang ditimbulkan oleh otot – otot pipi, sehingga pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung. Keadaan akan berbeda bila bayi diberi susu botol dimana rahang mempunyai peranan sedikit di dalam menelan dot botol, sebab susu mengalir dengan mudah dari lubang dot. Dengan adanya gaya berat, yang disebabkan oleh posisi botol yang dipegang kearah bawah dan selanjutnya dengan adanya isapan pipi, yang semuanya ini akan membantu aliran susu, sehingga tenaga yang diperlukan oleh bayi untuk menghisap susu menjadi minimal.

Regulasi Produksi Air Susu
Regulasi kualitas dan kuantitas air susu sebagian besar berada dibawah control prolaktin sebagai hormon pengatur utama, namun kerjanya membutuhkan sinergisme dengan beberapa hormon lain. Konsentrasi prolaktin meingkat selama kehamilan dari dibawah 20 ng/ml menjadi lebih dari 200ng/ml. Pada wanita menyusui kadar prolaktin serum basal meningkat selama 4-6 minggu postpartum, kemudian menurun hingga kadar seperti sebelum kehamilan walau masih menyusui. Sekitar dua bulan kemudian, isapan bayi dapat menyebabkan lonjakan pelepasan prolaktin. Walapun dengan produksi air susu sekitar satu liter atau lebih perhari, refleks ini juga menghilang secara bertahap.
Peran prolaktin yang paling penting pada awal masa menyusui terjadi dengan memblok sekresi hormon dari hipofisis dengan menggunakan agonis dopamine, yaitu bromokriptin. Saat bromokriptin diberikan pada wanita sesaat sesudah melahirkan, kadar prolaktin turun cepat mencapai kadar sebelum hamil. Pembesaran payudar dan laktasi tidak akan terjadi. Estrogen juga digunakan untuk menekan laktasi segera setelah melahirkan, dengan mekanisme yang berbeda. Setelah pemberian estrogen, kadar prolaktin meningkat, namun tidak ada air susu yang terbentuk. Estrogen menghambat kerjaprolaktin pada payudara, yang mungkin penyebab laktasi tidak terjadi sebelum kehamilan. Setelah plasenta lahir, tidak ada lagi estrogen yang bersirkulasi dalam jumlah besar. Kadar estrogen turun drastic dan air susu mulai dibentuk dal 24-48 jam.
Prolaktin menstimulasi sintesis beta laktoglobulin dan kasein pada jaringan payudara oleh insulin dan kortisol. Prolaktin menstabilkan kasein mRNA, memperlama waktu paruhnya hingga delapan kali lipat. Prolaktin menstimulasi sintesis lemak susu, dan mungkin terlibat dalam transport natriun di jaringan mammae. Pengikatan prolaktin ke reseptornya tidak menstimulasi aktifitas adenilal siklase.

Pengaruh Hormon Pada Masa Laktasi

(gambar Regulasi dan Pengaruh Hormon Terhadap Laktasi)
Hormon Prolaktin
Ketika bayi menyusu, payudara mengirimkan rangsangan ke otak. Otak kemudian bereaksi mengeluarkan hormon Prolaktin yang masuk ke dalam aliran darah menuju kembali ke payudara. Hormon Prolaktin merangsang sel-sel pembuat susu untuk bekerja, memproduksi susu.

(Gambar pengaruh hormon terhadap laktasi)

Sel-sel pembuat susu sesungguhnya tidak langsung bekerja ketika bayi menyusu. Sebagian besar hormon Prolaktin berada dalam darah selama kurang lebih 30 menit, setelah proses menyusui. Jadi setelah proses menyusu selesai, barulah sebagian besar hormon Prolaktin sampai di payudara dan merangsang sel-sel pembuat susu untuk bekerja. Jadi, hormon Prolaktin bekerja untuk produksi susu berikutnya. Susu yang disedot/dihisap bayi saat ini, sudah tersedia dalam payudara, pada muara saluran ASI.
Sederhananya, mekanisme produksi susu dalam payudara prinsipnya mirip dengan tanaman teh atau tanaman kembang kertas. Jika kita memetik pucuk teh atau kembang kertas, maka akan tumbuh dari bawah ketiak daun, dua buah cabang baru. Jadi semakin sering dipetik, semakin banyak pucuk mudanya. Jika tidak dipetik, tidak akan ada cabang baru.
Begitu pula dengan ASI, semakin sering disedot bayi, semakin banyak ASI yang diproduksi. Semakin jarang bayi menyusu, semakin sedikit ASI yang diproduksi. Jika bayi berhenti menyusu, maka payudara juga akan berhenti memproduksi ASI.

(gambar keadaan hormone saat menyusui)
Hormon Oksitosin
Setelah menerima rangsangan dari payudara, otak juga mengeluarkan hormon Oksitosin selain hormon Prolaktin. Hormon Oksitosin diproduksi lebih cepat daripada Prolaktin. Hormon ini juga masuk ke dalam aliran darah menuju payudara. Di payudara, hormon Oksitosin ini merangsang sel-sel otot untuk berkontraksi. Kontraksi ini menyebabkan ASI hasil produksi sel-sel pembuat susu terdorong mengalir melalui pembuluh menuju muara saluran ASI. Kadang-kadang, bahkan ASI mengalir hingga keluar payudara ketika bayi sedang tidak menyusu. Mengalirnya ASI ini disebut refleks pelepasan ASI.
Produksi Hormon Oksitosin bukan hanya dipengaruhi oleh rangsangan dari payudara. Hormon oksitosin juga dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan ibu. Jadi ketika ibu mendengar suara bayi, meskipun mungkin bukan bayinya, ASI dapat menetes keluar. Suara tangis bayi, sentuhan bayi, atau ketika ibu berpikir akan menyusui bayinya, atau bahkan ketika ibu memikirkan betapa sayangnya kepada sang bayi, ASI dapat menetes keluar.
Jika refleks pelepasan ASI ibu tidak bekerja dengan baik, maka bayi akan mengalami kesulitan memperoleh ASI karena harus mengandalkan hanya pada kekuatan sedotan menyusunya. Akibatnya, bayi akan kelelahan dan memperoleh sedikit ASI. Kadang-kadang hal ini membuatnya frustasi, dan kemudian menangis. Peristiwa ini kelihatannya seperti seolah-olah payudara berhenti memproduksi ASI, padahal tidak. Payudara tetap memproduksi ASI, tetapi ASI tidak mengalir keluar. Jadi perkara refleks pelepasan ASI ini sangat penting bagi bayi.

Zat Penghambat
Produksi ASI juga dikendalikan di dalam payudara itu sendiri. Bila dalam satu payudara ada banyak ASI yang tertinggal, maka zat penghambat akan memerintahkan sel-sel pembuat susu untuk berhenti bekerja. Penghentian ini diperlukan untuk mencegah

Nutrisi Masa Laktasi
Sebenarnya makanan bagi ibu yang sedang menyusui tidak jauh berbeda dengan makanan anda sehari-hari. Yang terpenting adalah anda harus memenuhi diet gizi seimbang. Masa menyusui banyak menguras stamina anda karena harus memberikan ASI pada malam hari. Karena itu anda harus makan yang cukup agar stamina tetap terjaga. Komisi ahli FAO/WHO merekomendasikan asupan makanan selama menyusui berkisar antara 1800 kalori – 2700 kalori.
Beberapa nutrisi yang perlu anda perhatikan selama menyusui. Kalsium merupakan mineral yang penting untuk tulang anda dan berbagai organ penting tubuh. Sebaiknya anda mengkonsumsi 1.600 mg atau 2-4 gelas susu setiap hari. Sumber kalsium terbaik yaitu produk olahan susu termasuk yoghurt, susu, keju, brokoli, jeruk, almond, ikan sarden, tofu dan sayuran berdaun gelap.
Penelitian menunjukkan bawah selama kehamilan dan menyusui kalsium tersedot dari tulang anda. Tubuh anda akan menggantikannya kembali dalam waktu yang lama dan tulang anda akan menjadi kuat kembali. Jika anda alergi atau tidak bisa mengkonsumsi produk olahan susu sebaiknya konsumsilah sumber kalsium lainnya seperti tofu atau suplemen kalsium dalam diet anda.
Anda juga harus mengkonsumsi suplemen Vitamin D, magnesium dan seng (zinc) karena akan membantu penyerapan kalsium. Mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang cukup akan membantu mencukupi kebutuhan vitamin anda. Vitamin D sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tulang bayi anda dan dapat diperoleh pada makanan seperti ikan, susu, telur dan mentega.
Pemanis buatan seperti aspartam umumnya dianggap aman buat ibu menyusui kecuali penderita phenylketonuria (PKU). Namun sebaiknya hindari makanan dengan pemanis buatan seperti aspartam yang mengandung phenylalanie karena dapat menyebabkan retardasi mental pada bayi.
ASI dibuat dari 87 persen air sehingga tubuh anda memerlukan air tambahan dan jus selama menyusui. Yang anda butuhkan adalah 8 hingga 10 gelas setiap hari. Pada saat menyusui, anda harus minum ketika anda merasa haus. Itu cara terbaik untuk meyakinkan bahwa anda mendapatkan cukup cairan saat menyusui. Anda dapat pula menjadikan warna urin sebagai tanda dan bila berwarna kuning pucat berarti anda minum cukup cairan. Jika anda kurang minum maka urin anda akan berwarna kuning gelap.
Penelitian menunjukkan bahwa minum cairan melebihi yang dibutuhkan tidak akan meningkatkan suplai ASI. Tetapi jika frekuensi menyusui lebih sering dan pengosongan payudara selalu terjadi, produksi ASI anda akan meningkat.

Adaptasi metabolik pada saat laktasi.
Perubahan fisiologis terjadi juga pada saat ibu memasuki periode menyusui. Berbagai perubahan metabolik terjadi seiring dengan perubahan kebutuhan nutrisi fetus dari dalam rahim menuju kemandirian di luar rahim. Beberapa perubahan yang terjadi dalam tubuh ibu meliputi berbagai perubahan metabolik terhadap zat nutrisi dalam tubuh.
Perubahan Metabolisme
Metabolisme lipid
• Terjadi peningkatan lipolisis
• Lipogenesis menurun
Sintesis ASI
• Penggunaan nutrisi dalam tubuh meningkat.
• Kebutuhan energi untuk kelenjar mammae meningkat 2-3 kali pada beberapa spesies, lebih besar daripada waktu biasanya dalam siklus kehidupan.
Intake dan pencernaan
• Konsumsi air dan makanan meningkat
• Terjadi hiportropi pada saluran pencernaan
• Kapasitas absorpsi nutrisi meningkat
Metabolisme glukosa
• Terjadi peningkatan glukoneogenesis
• Glikogenolisis meningkat
Metabolisme protein
• Terjadi mobilisasi protein simpanan
• Terjadi pada otot dan jaringan tubuh lain
Metabolisme mineral
• Terjadi peningkatan absorpsi dan mobilisasi mineral simpanan kalsium, fosfor dan magnesium
• Terjadi pada usus, tulang, ginjal dan hepar
• Terjadi “downer cow syndrome”, demam susu, kelemahan otot
• Kontrol hormonal –PTH, CT, E2
Metabolisme air
• Terjadi peningkatan absorpsi dan peningkatan volume plasma
• Usus, ginjal dan sistem saraf pusat berperan aktif
Faktor yang berperan dalam menentukan jumlah ASI yang dihasilkan adalah
1. Genetik perbedaan spesies dan keturunan
2. Nutrisi : ketersediaan nutrisi (formulasi diit akan mempengaruhi komposisi ASI)
3. Usia : kebutuhan pertumbuhan membatasi nutrisi untuk produksi ASI pada kehamilan pertama atau dibandingkan pada usia dewasa
4. Kehamilan : nutrisi janin pada akahir kehamilan menurunkan produksi ASI akibat kebutuhan energi. Hormon kehamilan mempunyai efek pada rangsang rasa
5. Lingkungan : panas dan dingin dapat menimbulkan stress-memerlukan pemeliharaan metabolisme air
6. Penyakit
• Ketosis : terjadi oksidasi asam lemak yang tidak sempurna ketika kekurangn glukosa.
• Mastitis : peradangan pada kelenjar mammae mengurangi sekresi payudara
Lactation delays reproduction
1. Dampak keseimbangan energi yang negatif selama periode laktasi menyebabkan hambatan reproduksi
2. NED (undernutrition in early lactation) menekan LH menyebabkan kegagalan siklus ovarium
3. Mobilasasi simpanan tubuh berhubungan dengan kegagalan aktivitas ovarium
4. Kebutuhan energi laktasi meningkat
5. Efek rangsang menyusui (suckling), mempunyai efrek tumpang tindih pada sistem kontrol ovarium, sekresi LH terhambat
6. Mekanisme paling penting dapat berupa hambatan opiate oleh LH
7. Penurunan LH memperlama interval ovulasi
8. Tidak ovulasi pada saat laktasi (lactational anovulation) menyebabkan seasonal anestrous pada beberapa spesies
9. Keseluruhan kombinasi kebutuhan energi dan metabolik disertai rangsang hisap (suckling) menyebabkan penurunan kemampuan reproduksi

Hubungan laktasi dengan status reproduksi
Laju produksi ASI yang tinggi menyebabkan keseimbangan energi menjadi negatif. Hal ini akan menyebakan mobilisasi energi simpanan tubuh. Keseimbangan energi yang negatif menyebabkan penurunan produksi LH. Penurunan sekresi LH menyebabkan kegagalan siklus ovarium. Kegagalan siklus ovarium menurunkan fertilitas akibat jumlah siklus yang sedikit.

Efek Laktasi pada siklus menstruasi
Wanita yang tidak menyusui bayinya biasanya mendapat periode menstruasi pertamanya 6 munggu setelah persalinan. Namun, wanita yang menyusui secara teratur mengalami amenoria selama 25-30 minggu. Menyusui merangsang sekresi prolaktin, dan terdapat bukti bahwa prolaktin menghambat sekresi GnRH, menghambat efek GnRH pada hipofisis, dan melawan efek gonadotopin pada ovarium. Ovulasi dihambat, dan ovarium menjadi tidak aktif, sehingga pengeluaran estrogen dan progesteron turun ke kadar rendah. Akibatnya, hanya 5-10% wanita menjadi hamil selama periode menyusui, dan telah lama diketahui bahwa menyusui merupakan suatu cara pengendalian kelahiran yang penting walaupun kurang efektif. Selain itu, hampir 50% siklus dalam 6 bulan pertama setelah kembalinya menstruasi bersifat anovulatorik.

Pembengakkan payudara
Terjadi pada hari kedua dan keempat setelah melahirkan, pada ibu yang tidak menyusui atau setiap saat ketika memberi ASI dihentikan. Tindakan konservatif (pemakaian Bra yang tetap, kantong S, analgesic) biasanya efektiv. Bromokriptin dapan diindikasikan dalam kasus yang membandel.

Sindrom Chiari-Frommel
Terdapat suatu keadaan yang walaupun jarang ditemukan tetapi menarik, yaitu menetapnya laktasi ( galaktorea ) dan amenorea pada wanita yang tidak menyusui setelah melahirkan. Keadaan ini, disebut Sindrom Chiari-Frommel, mungkin berkaitan dengan atrofi genital dan disebabkan oleh menetapnya sekresi prolaktin tanpa sekresi FSH dan LH yang diperlukan untuk menghasilkan pematangan folikel baru dan ovulasi. Pola serupa berupa galaktorea dan amenorea dengan kadar prolaktin darah yang tinggi dijumpai pada wanita tidak hamil yang menderita tumor hipofisis kromofob dan pada wanita yang tangkai hipofisisnya telah dipotong sebagai pengobatan kanker.

III. Penutup



Kesimpulan

Kelenjar mammae mulai terlihat pada embrio usia 4 minggu, dimana payudara terus membesar selama beberapa tahun setelah menarke. Akan tetapi, perkembangan lobulus tidak akan melewati tahap rudimenter pada keadaan tidak adanya kehamilan. Regulasi kuantitas dan kandungan ASI berada dibawah kontrol hormonal, terutama prolaktin. Selain itu isapan bayi pada puting susu juga merupakan stimulus penyampaian air susu ke bayi. Pada masa laktasi juga terjadi perubahan-perubahan metabolik pada tubuh.

Daftar Pustaka

1. Heffner, Linda J dan Danny J. Schust. 2006. At a Glance Sistem Reproduksi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
2. Ganong, W.F.2002.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 20.Jakarta:EGC.
3. Prawirohardjo,Sarwono. 1982. Ilmu Kandungan.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
4. Saryono.2008. Biokimia Reproduksi.yogyakarta:Mitra Cendikia Press.
5. ______. Anatomi-Payudara-dan-Fisiologi-Payudara(on line) (http://www.google.co.id, diakses 1 Mei 2009).
6. ______. Mekanisme-Produksi-Asi (on line) (http://www.google.co.id, diakses 1 Mei 2009)
7. ______.Asi-Laktasi (on line) (http://www.botefilia.com, diakses 1 Mei 2009)
8. Guyton AC, Hall JE. 2000. Textbook of Medical Physiology 10th Edition. Philadelphia: WB Saunders
9. Cumming, Benjamin. 2006. Human Anatomy & Physiology 7ed .CHM


Aksi

Information

One response

6 05 2009
With This Diet I Lost T h i r t y P o u n d s in Only a Month

Hi, nice post. I have been wondering about this topic,so thanks for blogging. I will likely be coming back to your posts. Keep up the good posts

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: